fbpx

DIMENSI DAN MODEL INTERNALISASI NILAI-NILAI KARAKTER RELIGIUS DI SEKOLAH

SEKAPUR SIRIH 

Kejadian tawuran pelajar di Indonesia, berada pada tahap
yang mengkhawatirkan dan telah memakan korban jiwa para
pelajar yang seharusnya menjadi penerus bangsa. Di antara
mereka bahkan melakukan penganiayaan hingga menewaskan
lawannya dengan perasaan tidak bersalah dan berdosa.
Realitas perilaku siswa sebagaimana fenomena di atas,
nampaknya sangat kontradiksi dengan rumusan Tujuan Pendidikan
Nasional sebagaimana ditegaskan dalam Undang-Undang No. 20
tahun 2003 Pasal 3 bahwa “Pendidikan Nasional berfungsi
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta
peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta
didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggung jawab.”
Paradoks tersebut mengindikasikan bahwa fungsi pendidikan
sebagai pembentuk kepribadian telah mengalami degradasi nilai
atau sikap di dalam praktik pendidikan. Taksonomi pendidikan
sebagai bingkai wilayah kepribadian manusia yakni membentuk
sikap (affective domain), mengembangkan pengetahuan (cognitive
domain), serta melatihkan keterampilan (psychomotoric domain),
nampaknya belum menjadi domain yang utuh dalam tataran
outcomes pendidikan. Bahkan dalam praktiknya, domain kognitif
lebih dipentingkan dari pada domain yang lainnya. Seolah
kepribadian manusia hanya berhubungan dengan kecerdasan
otaknya, yang belakangan dikenal dengan IQ. Padahal seseorang
dengan IQ tinggi tidak menjamin mampu mengatasi berbagai
masalah yang dihadapi, kecuali ia juga memiliki piranti kecerdasan
lainnya yang tinggi.
Kemampuan menahan nafsu (diri) sebagai inti domain afektif
adalah akar kecerdasan yang lebih penting dari pada IQ. Daniel Goleman menyatakan pentingnya kecerdasan emosional (EQ),
sedangkan Danah Zohar memunculkan pemikiran filosofis tentang
kecerdasan spiritual atau hati nurani yang disebut SQ. SQ dan EQ
dipandang sebagai unsur pokok yang menjadikan seseorang bisa
mencapai kesuksesan hidup. Kecerdasan dalam dimensi afektif ialah
kepribadian, yang merupakan produk kesadaran atas nilai-nilai
secara kreatif.
Dalam khazanah Islam, aspek kepribadian selalu
termanifestasikan dalam bentuk religiositas umat yang lebih banyak
berkaitan dengan kecerdasan emosional dan spiritual yang
bertumpu pada masalah kesadaran diri. Religiositas ialah kesadaran
relasi manusia dengan Tuhan, relasi manusia dengan sesama, relasi
manusia dengan alam dan relasi manusia dengan dirinya sendiri
(Hablumminallah wa Hablumminannas). Ketidakmampuan
pendidikan dalam menumbuhkan kesadaran diri akan bisa
mendorong tumbuhnya sifat negatif manusia dalam hubungan
sosial yang luas, seperti perilaku kekerasan atau tindakan brutal
lainnya.

 

DIMENSI DAN MODEL INTERNALISASI NILAI-NILAI KARAKTER
RELIGIUS DI SEKOLAH
Copyright © Dr. H. Darmadi, S.Ag., M.M., MM.Pd., M.Si.

Penulis: Dr. H. Darmadi, S.Ag., M.M., MM.Pd., M.Si.
Editor: Istiqomatuttaqiyyah
Penata Letak Isi: F. D. Abdillah
Penata Sampul: Yurdi Andani

Cetakan Pertama, Januari 2020
xviii + 68 hal; 14,8 x 21 cm
ISBN: 978-602-476-637-5

Rp35.000

Stok 2

DIMENSI DAN MODEL INTERNALISASI NILAI-NILAI KARAKTER RELIGIUS DI SEKOLAH

Deskripsi

SEKAPUR SIRIH 

Kejadian tawuran pelajar di Indonesia, berada pada tahap
yang mengkhawatirkan dan telah memakan korban jiwa para
pelajar yang seharusnya menjadi penerus bangsa. Di antara
mereka bahkan melakukan penganiayaan hingga menewaskan
lawannya dengan perasaan tidak bersalah dan berdosa.
Realitas perilaku siswa sebagaimana fenomena di atas,
nampaknya sangat kontradiksi dengan rumusan Tujuan Pendidikan
Nasional sebagaimana ditegaskan dalam Undang-Undang No. 20
tahun 2003 Pasal 3 bahwa “Pendidikan Nasional berfungsi
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta
peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta
didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggung jawab.”
Paradoks tersebut mengindikasikan bahwa fungsi pendidikan
sebagai pembentuk kepribadian telah mengalami degradasi nilai
atau sikap di dalam praktik pendidikan. Taksonomi pendidikan
sebagai bingkai wilayah kepribadian manusia yakni membentuk
sikap (affective domain), mengembangkan pengetahuan (cognitive
domain), serta melatihkan keterampilan (psychomotoric domain),
nampaknya belum menjadi domain yang utuh dalam tataran
outcomes pendidikan. Bahkan dalam praktiknya, domain kognitif
lebih dipentingkan dari pada domain yang lainnya. Seolah
kepribadian manusia hanya berhubungan dengan kecerdasan
otaknya, yang belakangan dikenal dengan IQ. Padahal seseorang
dengan IQ tinggi tidak menjamin mampu mengatasi berbagai
masalah yang dihadapi, kecuali ia juga memiliki piranti kecerdasan
lainnya yang tinggi.
Kemampuan menahan nafsu (diri) sebagai inti domain afektif
adalah akar kecerdasan yang lebih penting dari pada IQ. Daniel Goleman menyatakan pentingnya kecerdasan emosional (EQ),
sedangkan Danah Zohar memunculkan pemikiran filosofis tentang
kecerdasan spiritual atau hati nurani yang disebut SQ. SQ dan EQ
dipandang sebagai unsur pokok yang menjadikan seseorang bisa
mencapai kesuksesan hidup. Kecerdasan dalam dimensi afektif ialah
kepribadian, yang merupakan produk kesadaran atas nilai-nilai
secara kreatif.
Dalam khazanah Islam, aspek kepribadian selalu
termanifestasikan dalam bentuk religiositas umat yang lebih banyak
berkaitan dengan kecerdasan emosional dan spiritual yang
bertumpu pada masalah kesadaran diri. Religiositas ialah kesadaran
relasi manusia dengan Tuhan, relasi manusia dengan sesama, relasi
manusia dengan alam dan relasi manusia dengan dirinya sendiri
(Hablumminallah wa Hablumminannas). Ketidakmampuan
pendidikan dalam menumbuhkan kesadaran diri akan bisa
mendorong tumbuhnya sifat negatif manusia dalam hubungan
sosial yang luas, seperti perilaku kekerasan atau tindakan brutal
lainnya.

 

DIMENSI DAN MODEL INTERNALISASI NILAI-NILAI KARAKTER
RELIGIUS DI SEKOLAH
Copyright © Dr. H. Darmadi, S.Ag., M.M., MM.Pd., M.Si.

Penulis: Dr. H. Darmadi, S.Ag., M.M., MM.Pd., M.Si.
Editor: Istiqomatuttaqiyyah
Penata Letak Isi: F. D. Abdillah
Penata Sampul: Yurdi Andani

Cetakan Pertama, Januari 2020
xviii + 68 hal; 14,8 x 21 cm
ISBN: 978-602-476-637-5

Informasi Tambahan

Berat 125 g

Ulasan

Belum ada ulasan.

Jadilah yang pertama memberikan ulasan “DIMENSI DAN MODEL INTERNALISASI NILAI-NILAI KARAKTER RELIGIUS DI SEKOLAH”

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No more offers for this product!

Diskusi umum

Saat ini belum ada diskusi apapun pada produk ini

0